alorpos.com – KETUA Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pdt.Dr.Jacklevyn Fritz Manuputty,S.Th.S.Fil.,M.A., telah membuka Persidangan Majelis Pekerja Haria (MPH) PGI di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jumad (22/5/2026) pagi. Dalam sambutannya, Jacklevyn menegaskan alasan mengapa Alor dipilih sebagai tempat pelaksanaan Sidang MPH PGI dan puncak Perayaan HUT PGI ke-76.
Wilayah Kabupaten Alor di beranda NKRI karena berhadapan laut langsung dengan negara Timor Leste itu punya nilai-nilai budaya dan harmoni kehidupan religus antar umat beragama yang tumbuh dan mengakar kuat. Karena itu PGI memutuskan bahwa Sidang MPH dan rangkaian perayaan HUT PGI ke-76 yang dimulai sejak 21 hingga 26 Mei 2026, bertepatan dengan Bulan Oikumene itu, sangat tepat dilaksanakan di Alor.
Rupanya Ketum PGI juga sudah mulai mengakrabi budaya Nusa Kenari, sehingga ketika menyampaikan salam kepada para hadirin dan peserta pembukaan sidang MPH PGI, sempat pula mengucapkan salam khas Alor dari etnis Abui yakni salam Tara Miti Tomi Nuku. Secara harafiah, salam Tara Miti Tomi Nuku punya makna: Meski berbeda kedudukan, status sosial, atau tempat tinggal, tetapi kita tetap memiliki kesatuan hati dan persaudaraan.
Makna salam ini tentu menggugah rasa Ketum PGI untuk menyampaikannya sebagai pesan dari Alor untuk Indonesia. Bahkan sosok Pdt.Jacky Manuputty asal Haruku-Ambon yang pernah mengajar Filsafat ini, sempat berpesan kepada hadirin untuk mulai menghafal Salam Tara Miti Tomi Nuku.
Pdt. Jacklevyn menegaskan bahwa pemilihan Alor sebagai lokasi persidangan dan perayaan HUT ke-76 PGI membawa pesan teologis dan organisasional yang sangat kuat bagi seluruh gereja di Indonesia.

“Kita ingin mengirim pesan dari Alor bahwa detak oikumene juga ada di pulau-pulau terluar seperti ini. Oikumene bukan gerakan yang berpusat di Salemba dan dikelilingi oleh Gereja-gereja sebagai pinggiran, tapi dia berdetak secara setara di Sumatera, di Papua, di Salemba 10, juga di Alor,” tegas Pdt. Jacklevyn.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Alor dengan masyarakat pesisir dan lautnya merupakan lokus berteologia yang nyata dan harus dihidupi dalam perjalanan panjang Gereja-gereja di Indonesia.
Ketum PGI pun menyampaikan apresiasi mendalam atas kehangatan dan keanggunan budaya yang ditunjukkan oleh masyarakat Alor serta Jemaat GMIT Se-Tribuana selaku tuan rumah. Sebelum sidang resmi dibuka, nuansa budaya yang kental menyambut para peserta melalui persembahan Tarian Lego-Lego yang mengusung tema “Tuhan Gembala Yang Baik.”
Acara kemudian dilanjutkan dengan ibadah pembukaan. Pelayan Firman dipimpin oleh Pdt. Dr. Arnold Tindas, tokoh senior dari Sinode Gereja Masehi Protestan Umum (GMPU). Pdt. Arnold yang juga adalah Anggota Majelis Pertimbangan PGI, memberikan pesan rohani dalam bacaan Firman Filipi 2:1-4 tentang; “Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus.”
Firman ini memberikan refleksi yang mendalam bagi seluruh peserta sebelum memulai dinamika persidangan. Agenda Strategis Sidang MPH PGI 2026 Sebanyak 43 peserta sidang MPH PGI beserta undangan dari kalangan pendeta GMIT di Tribuana Alor hadir menyaksikan pembukaan ini.

Selama beberapa hari ke depan, sidang akan membahas sejumlah agenda krusial organisasi, antara lain:
1. Pengantar Ketua Umum 2. Laporan MPH–PGI Bagian Umum 3. Laporan MPH-PGI Bagian Keuangan 4. Informasi Badan Pemeriksa 5. Pertimbangan Majelis Pertimbangan 6. Pembahasan Agenda Sidang 7. Pengambilan Keputusan 8. Warnasari (Ketua Umum PGI) 9. Doa Penutup (yang dijadwalkan dipimpin oleh Pdt. Gomar Gultom).
Sidang MPH PGI 2026 di bumi Alor ini diharapkan melahirkan keputusan-keputusan strategis yang semakin mempererat kebersamaan dan pelayanan gereja-gereja di seluruh pelosok tanah air dalam bingkai oikumene yang setara dan inklusif. (ap/linuskia-tim)