Usia Harapan Hidup Orang Alor Capai 71,33 Tahun, Pemkab Pacu Penurunan Stunting dan Peningkatan Pangan Bergizi

author
4 minutes, 16 seconds Read

alorpos.com – PEMBANGUNAN Kabupaten Alor di sector kesehatan juga terus mengalami kemajuan yang signifikan. Hal itu sebagaiman tergambar dalam data yang disampaikan Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo,S.H.,M.H., saat menyampaikan Pidato selaku Inspektur Upacara HUT RI Ke-81 di Lapangan Mini Kalabahi, 17 Agustus 2026. Berikut kutipan lebih lanjut pidato Wabup Winaryo, khususnya di bidang kesehatn berikut ini; Salah satu prioritas utama pemerintahan Iskandar-Rocky yakni terus berkomitmen memastikan bahwa pembangunan kesehatan bukan hanya berbicara tentang pengobatan ketika masyarakat sakit, tetapi juga tentang bagaimana kita mencegah penyakit, meningkatkan kualitas hidup,

Memperluas akses pelayanan kesehatan, serta membangun kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.Komitmen tersebut menunjukkan hasil yang cukup baik. Pada tahun 2025, Usia Harapan Hidup masyarakat Kabupaten Alor telah mencapai 71,33 tahun, atau mencapai 99,34 persen dari target yang ditetapkan sebesar 71,8 tahun. Prevalensi stunting pada juni 2026 berada di angka 23,3% (e-ppgbm), turun 0,6% dari 23,9% di tahun 2025.

Capaian ini menunjukkan bahwa secara bertahap kualitas kesehatan masyarakat Alor terus mengalami kemajuan. Kemajuan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat pelayanan kesehatan. Capaian ini tentu bukan hasil kerja pemerintah semata, tetapi merupakan buah dari kerja bersama seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat, mulai dari tenaga kesehatan, kader posyandu, pemerintah kecamatan dan desa/kelurahan, para tenaga pendidik, tokoh agama dan tokoh masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga terutama keluarga sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Percepatan penurunan stunting di Kabupaten Alor juga tidak terlepas dari dukungan dan peran aktif Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor bersama seluruh Kader PKK di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan, yang secara konsisten hadir di tengah keluarga dan masyarakat. PKK memberikan edukasi kepada keluarga tentang kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pola asuh, pemanfaatan pangan lokal bergizi, serta pentingnya membawa balita secara rutin ke Posyandu untuk penimbangan dan pengukuran pertumbuhan.

Pada tahun 2025 telah dilakukan pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan, pembangunan satu unit Puskesmas, pembangunan satu unit rumah dinas tenaga kesehatan, pengadaan dua unit mobil pelayanan kesehatan keliling, penyediaan sarana air bersih, pembangunan dua unit ipal, serta pembangunan, rehabilitasi dan renovasi 13 Pustu. Pemerintah juga terus memperkuat ketersediaan obat, alat kesehatan, sarana pelayanan, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.  

Pemkab Alor juga terus memberikan perhatian serius kepada kesehatan ibu dan anak. Berbagai langkah dilakukan melalui penguatan pelayanan ibu hamil, kelas ibu hamil dan ibu balita, kunjungan rumah, pendampingan ibu hamil berisiko tinggi, peningkatan kapasitas bidan, penguatan sistem rujukan maternal dan neonatal, serta pendampingan oleh tenaga ahli. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita untuk memastikan bahwa setiap ibu dapat melahirkan dengan aman dan setiap anak alor dapat tumbuh sehat dan berkualitas.

Di bidang pencegahan penyakit, pemerintah kabupaten alor juga terus memperkuat pelayanan promotif dan preventif. Skrining faktor risiko penyakit tidak menular, pelayanan bagi lansia, promosi kesehatan, serta penguatan peran kader dan masyarakat terus dikembangkan. Hal ini penting karena tantangan kesehatan kita saat ini tidak hanya berasal dari penyakit menular, tetapi juga semakin meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.

Dalam pembangunan kesehatan, kita juga memberikan perhatian besar terhadap perbaikan gizi dan percepatan penurunan stunting. Pemerintah bersama tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah kecamatan dan desa, serta seluruh pemangku kepentingan terus melakukan intervensi melalui pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal, pemantauan tumbuh kembang anak, kelas ibu, pendampingan balita bermasalah gizi, penguatan posyandu, serta gerakan cegah stunting dan aksi bergizi.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran masyarakat. Karena kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Saat ini sekitar 80 persen rumah tangga di Kabupaten Alor telah memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mendekati target standar pelayanan minimal sebesar 82 persen. Ini merupakan modal penting bagi kita untuk terus menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Namun, kita juga harus jujur bahwa masih terdapat pekerjaan besar yang harus kita selesaikan. Angka kematian ibu dan bayi, masalah stunting dan gizi, keterbatasan serta pemerataan tenaga kesehatan, penyakit tidak menular, dan akses pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah tertentu masih menjadi tantangan pembangunan kesehatan kita. Karena itu, capaian yang telah kita raih tidak boleh membuat kita berpuas diri.

Saat ini Kabupaten Alor memiliki 27 Puskesmas, yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Alor, serta 86 Puskesmas Pembantu (Pustu) sebagai jaringan pelayanan yang semakin mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat di desa-desa. Selain itu, Kabupaten Alor memiliki 3 rumah sakit, yaitu RSD Kalabahi, Rumah Sakit Pratama Mola dan Rumah Sakit Pratama Wailawar, didukung oleh 78 tenaga medis, terdiri dari 9 dokter spesialis, 59 dokter umum, 9 dokter gigi dan 1 dokter gigi spesialis.

Selain itu terdapat 782 tenaga keperawatan, 589 tenaga kebidanan, 132 tenaga kesehatan masyarakat, 105 tenaga kesehatan lingkungan, 94 tenaga gizi, 81 ahli teknologi laboratorium medik, 117 tenaga kefarmasian, termasuk 14 apoteker. Kita juga memiliki 81 ahli teknologi lab medik, 118 tenaga keteknisian medis, 94 tenaga gizi, 10 tenaga teknik biomedika lainnya dan 4 tenaga keterapian fisik, namun masih banyak pekerjaan rumah, terutama dalam menekan tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta mengendalikan penyakit seperti TBC, DBD, dan Stunting.

Untuk itu, pemerintah mendorong langkah-langkah berikut: ➤ Memperkuat pelayanan ibu dan anak serta sistem rujukan untuk menekan kematian ibu dan bayi. ➤ Meningkatkan deteksi dan pengobatan tbc sampai tuntas. ➤ Memperkuat pencegahan dan penanganan dbd melalui pemberantasan sarang nyamuk dan 3m plus. ➤ Mempercepat penurunan stunting melalui intervensi gizi sejak ibu hamil hingga balita. ➤ Memperkuat posyandu dan kader kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan di masyarakat. ➤ Meningkatkan pemerataan tenaga dan fasilitas kesehatan, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan.  (ap/linuskia)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *