alorpos.com – UNICEF (United Nations Children’s Fund), sebuah lembaga kemanusiaan dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mensponsori kegiatan dengan tema sentral, “Ayah Alor Peduli, Anak Terlindungi: Saatnya Dukung Imunisasi. Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Alor ini berlangsung sehari, pada Kamis (12/2/2026) di Melody Meeting Room Hotel Simfony Kalabahi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarkat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, Beny Wisang,S.K.M.,M.Kes selaku Ketua Panitia Pelaksana mengatakan, peserta kegiatan tersebut melibatkan kaum ayah dari berbagai kalangan profesi seperti petani, nelayan, ASN, TNI, Polri, wartawan, serta pengurus PKK Kabupaten Alor.
Sementara itu, pemateri dalam kegiatan Ayah Alor Peduli ini, panitia menghadirikan nara sumber dari Dinas Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Timur dan dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang. Kegiatan inipun dipantau langsung secara daring oleh Perwakilan Unicef, dr.Alfian. Pantauan media ini, kegiatan yang disponsori Unicef ini dibuka Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, Yohana Baleare,S.E., karena pada saat yang sama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, dr.Farida Ariyani sedang mengikuti kegiatan Musrenbang di Kecamatan Pureman.
Dalam sambutannya, Yohana Baleare mengatakan bahwa kegiatan dengan tema Ayah Alor Peduli, Anak Terlindungi ini, karena selama ini ibu-ibu yang dominan mengurus anak. Ayah kurang peduli, bahkan kata Yohana, tak paham apa manfaat Posyandu dan Imunisasi bagi anak. Ia berpendapat, bahwa peran ayah tak hanya cari nafkah, tetapi juga harus ada keterlibatan dan kepedulian dalam merawat anak, termasuk imunisasi.

“Karena itu kami hadirkan kaum ayah dari semua link profesi. Meski sibuk di pekerjaan masing-masing, tetapi harus peduli anak sejak dini, sejak dalam rahim, posyandu dan imunisasi,”tandas Yohana.
Gerakan anak sehat, lanjut Yohana, dimulai dari keluarga agar anak terima imunisasi lengkap, sehingga kesehatannya bagus dalam tumbuh kembang. Yohana menekankan, ayah harus ikut menenangkan anak anak secara psikologis dengan memperhatikan anak, misalnya memeluk anak saat sakit, dan sebagainya.
“Kalau tak imunisasi lengkap resiko kena campak, resiko kena polio dan dampak penyakit ikutan. Jangan anak sudah sakit baru ayah salahkan mama-mama. Sebuah kehamilan dijaga dengan baik sejak 100 hari hingga lahir, dan imunisasi. Seberapa banyak uang yang bapak dapat selama bekerja, tetapi satu imunisasi anak tidak dapat, maka dampaknya akan dialami anak seumur hidupnya,”tegas Yohana mengingatkan.
Imunisasi itu, demikian Yohana, menjadi urusan bersama ayah dan ibu. Peran bapak sangat penting, sehingga dia berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Sesibuk apapun, pesan Yohana, harus perhatikan apakah anak sudah imunisasi atau belum sesuai tahapannya. Anak kalau terlewatkan satu imunisasi, lanjut dia, akan berdampak buruk pada kesehatannya sepanjang hidup. Dia juga mengingatkan kaum ayah, jangan hanya ingat jadwal imunisasi, tetapi juga dampingi ibu untuk antar anak ke Posyandu untuk imunisasi.

“Ayah harus berkomitman untuk menjadi Ayah Alor yang peduli, yang siap gerak cepat untuk imunisasi anak. Jadilah ayah Alor yang peduli dan sayang anak sejak dalam rahim hingga ahir, imunisasi dan tumbuh kembang anak,”himbau Yohana.
Lebih jauh Yohana berharap, para ayah yang hadir dalam kegiatan ini, menjadi surat hidup untuk menyampaikan kepada ayah-ayah yang lain di lingkungan masing-masing, agar peduli anak. Kepada Romo Mario Kosat dari Paroki Yesus Gembala Yang Baik Kalabahi dan Ustad Umar Idris yang hadir serta para tokoh agama, diharapkan Yohana agar melalui mimbar rumah-rumah ibadah menggugah kaum ayah agar peduli anak untuk imunisasi.
Dia berharap, kegiatan tersebut tidak seremonial semata, tetapi ada tindak lanjut sehingga ada hasil yang menggembirakan yakni semakin banayak anak Alor yang imunisasi lengkap sesua tahapan, sehingga tumbuh generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
“Mari kita mulai dan menjadi contoh bagi yang lain,”pungkas Yohana.

Kegiatan saat itu dilanjutkan dengan panel diskusi yang dimoderatori Kabid Kesmas Dinkes Alor, Beni Wisang, dengan menghadirkan dua pemateri, yakni Maria Ferdinanda Bukan,S.K.M.,M.K.M dari Dinas Kesehatan Propinsi NTT, dan Dr.Aemilianus Mau,S.Kep.Ns.,M.Kep., dosen Poltekes Kemenkes Kupang.
Tampil pertama, Maria Ferdinanda Bukan,S.K.M.,M.K.M., membawakan materi tentang Kebijakan dan Strategi Imunisas serta Pendekatan Gender. Saat itu Maria sempat menyampaikan terima kasih atas dukungan Unicef karena tidak semua kabupaten di NTT mendapat kegiatan yang dibiayai Unicef itu. Tujuan kegiatan di Alor, untuk meningkatkan cakupan imunisasi.
“Imunisasi itu hak anak dan kewajiban kita semua, mulai dari pusat, propinsi, kabupaten/kota, Puskesmas hingga desa/kelurahan, dusu,, RT/RW semua, sesuai amanat Undang-Undang Perlindungan Anak,”ujar Maria Bukan.
Ia kemudian menjelaskan secara detail tentang jenis-jenis imunisasi yang fokus pada anak-anak dari bayi, baluta (dibawah dua tahun), balita (dibawah lima tahun), sampai anak sekolah dan imunisasi dewasa seperti saat Covid-19. Imunisasi ini diberikan gratis oleh pemerintah kepada anak-anak, sehingga dia menekankan bahwa hak anak-anak itu harus dilayani secara teratur sesuai tahapan imunisasi yang lengkap, agar punya kekebalan atau imunitas tubuh yang bagus. Ia juga mengemukakan pentingnya imuisasi HPV bagi anak-anak perempuan usia sekolah untuk mencegah penyakit kanker leher rahim.

Kesempatan itu Maria Bukan juga memaparka hasil Evaluasi Cakupan Imunisasi di NTT sesuai target nasional, yakni imuniasi lengkap pada tahun 2025 sebesar 80 % tetapi NTT hanya mencapai 60,2 % sehingga masih sangat rendah. Untuk capaian per kabupaten/kota di NTT, Alor juga masih tergolong rendah karena rata-rata masih di zona kuning. Untuk imunisasi lengkap, Kabupaten Alor baru mencapai 59,67 % atau berada level tengah dari 22 kabupaten/kota di NTT. Menurutnya hanya Kabupaten TTS dan Kota Kupang yang telah mencapai dari target 80 %.
“Capaian di tingkat NTT hanya 63 %, tetapi Alor dibawah rata-rata NTT karena kita masih rendah. Makanya hari ini Unicef mendukung kegiatan ini,”kata Maria.
Terkait gender, ia menilai tema Ayah Alor Peduli Imunisasi menciptakan ruang interaksi tentang banyak hal tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dulu orang bilang memasak itu hanya perempuan, tetapi saat ini, sambung Maris, justru koki-koki handal di hotel-hotel berbintang itu kaum laki-laki.
“Jadi antar anak ke Posyandu untuk imunisasi itu bukan hanya tugas ibu, tetapi juga tugas ayah,”pungkas Maria.
Selanjutnya pemateri kedua, Dr.Aemilianus Mau,S.Kep.Ns.,M.Kep., membawakan dua materi, yakni Peran Ayah Dalam Penyampaian Keputusan Kesehatan Anak, serta tentang Konsep Kampanye Ayah dan Perubahan Perilaku Dalam Mendukung Imunisasi.

Milianus mengemukakan alasan, mengapa keterlibatan laki-laki itu sangat penting untuk kesehatan, khususnya untuk program imunisasi, karena bapak atau ayah adalah penanggungjawab utama sesuai budaya Nusa Tenggara Timur.
“Keputusan untuk pergi imunisasi, biayak perawatan, dan lain sebagainya, sangat tergantung pada bapak atau ayah. Karena itu paling tidak harus bisa terlibat utuk membawa anak ke Posyandu, atau mengingatkan istri agar membawa anak ke Posyandu sesuai jadwal, dan imunisasi,”tandas Milianus Mau.
Dosen Poltekes Kupang yang juga Ketua PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Propinsi NTT Ini yakin, bahwa dengan kepedulian ayah akan meningkatkan cakupan imunisasi dan melindungi anaknya dari penyakit. Keterlibatan ayah atau suami dalam pemeriksaan kesehatan ibu hamil juga dinilainya sangat penting agar melindungi istri dan anak dari ancaman penyakit selama masa kehamilan hingga melahirkan.
“Tokoh agama seperti Romo, Ustad, Pendeta juga sangat penting karena melalui mimbar dapat menghimbau umat terutama kaum ayah agar peduli terhadap kesehatan anak sehingga pastikan anak-anak mengikuti imunisasi secara lengkap,”ujar Milianus.

Dia juga menjelaskan tentang maskulinitas dan budaya negatif yang harus digeser. Yang harus dikedepankan adalah rasa hormat, saling menghargai, kemudian ada reflekesi kalau melakukan kesalahan. Tanggungjawab rumah tangga, jelas Milianus,harus dipikul bersama-sama.
“Tema kegiatan ini Ayah Alor Peduli. Biasanya ada rencana kegiatan tindak lanjut, hasilnya ketika dievaluasi kembali tidak signifikan. Karena kita tidak memiliki komitmen yang tinggi untuk mulai bekerja dari hal-hal sederhana, mulai dari sekarang. Jadi sekarang, kalau semua sudah mendengar, pulang dan informasikan hal-hal kecil, bawa anak sekali-sekali ke Posyandu. Tetapi kalau tidak memulai dari hal-hal kecil, maka peningkatkan cakupan imunisasi di Kabupaten Alor tidak akan terjadi,”tegas doktor perawat, dosen Poltekes Kupang ini.
Setelah kedua pemateri menyampaikan materi masing-masing selama 45 menit, dilanjutkan dengan diskusi. Para peserta nampak antusias mengajukan pertanyaan dan usul saran dalam sesi diskusi ini.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi terkait cakupan imunisasi di Kabupaten Alor oleh Pengelola Program Imunisasi di Kabupaten Alor, Sudirman Manumpa,S.K.M.

Kemudian penyampaian materi tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Capaian Imunisasi di Kabupaten Alor Tahun 2025, oleh oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Alor, Beny Wisang,S.K.M.,M.Kes. Selanjutnya, pemaparan materi tentang Pemetaan Lima Indikator Program Imunisasi Untuk NTT dan Kabupaten Alor, oleh dosen Poltekes Kupang, Johanis J.Pitreyadi Sadukh,S.T.,M.Sc.
Puncak rangkaian kegiatan yang dipandu MC , Yane Sir,S.Farm ini yakni perumusan rencana kegiatan tindak lalnjut (RKTL) oleh peserta yang dibagi dalam tiga kelompok, yakni Kelompok Tokoh Agama dan TNI/Polri, Kelompok Puskesmas dan Kelompok PKK. Setelah merumuskan RKTL, masing-masing kelompok mempresentasikannya, kemudian dikumpulkan panitia untuk dipadukan dan disepakati bersama. 12 perwakilan perserta dan pemateri kemudian menandatangani RKTL dimaksud untuk langkah selanjutnya.

Kegiatan ini kemudian ditutup oleh Kabid Kesmas Dinkes Alor, Beny Wisang,S.K.M.,M.Kes. Beny berharap agar para ayah yang telah mengikuti kegiatan tersebut agar menyebarkan informasi, minimal kepada istri, tetangga, di lingkungan RT/RW masing-masing-masing.
“Kalau tidak bisa, jangan buat hoax (informasi bohong) terhadap imunisasi, dan juga terhadap Posyandu. Mungkin itu yang kita minta dari bapak-bapak hebat, bapak-bapak tangguh yang telah menghadiri kegiatan ini,”pinta Beny Wisang. (ap/linuskia)