alorpos.com – SALAH satu kegiatan Anggota DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat,B.B.A selama melaksanakan reses selama kurang lebih sembilan hari di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggra Timur, yakni bersama Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Republik Indonesia, menggelar Workshop terkait Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Desa Tahun 2026 di Kabupaten Alor.
Workshop ini berlangsung pada Kamis (26/2/2026) di Aula Pola Tribuana Kalabahi, dengan tema, “Tata kelola keuangan desa yang berkualitas, peningkatan kemandirian desa yang berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat desa”.
Ketua Panitia, Ahmad Suprianto dari BPKP Perwakilan Provinsi NTT melaporkan, bahwa peserta kegiatan tersebut terdiri dari 18 camat dan 158 kepala desa se-Kabupaten Alor. Sedangkan narasumber dalam workshop ini, yakni Anggota Komisi XI DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat, Direktur Pengawasan dan Stabilitas Keuangan, Pembangunan dan Tata Kelola Pemerintah Desa pada BPKP RI, Dr.Arman S.Harahap,S.E.,M.M., Kepala Kejaksaan Negeri Alor, Mohammad Nursaitias,S.H.,M.H., dan Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kupang, Delfiana Lase.
Kegiatan ini dihadiri pula Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kapsari, Ketua DPRD Alor, Paulus Brikmar, unsur Forkopimda Kabupaten Alor, serta Pimpinan OPD, lingkup Pemkab Alor.

Dalam kegiatan ini, Anggota Komisi XI DPR RI, Julie Laiskodat memberikan cindera mata kepada para nara sumber dan unsur Forkopimda Kabupaten Alor, serta seluruh kru BPKP Perwakilan NTT berupa tenunan khas Alor dan kuliner khas Alor seperti jagung titi, kue rambut dan kenari.
“Selamat datang di Alor. Ini sebagai ikatan kita dengan Alor. Ada jagung titi, ada mama-mama punya kue rambut, ada kenari dan kopi Alor,”kata Julie, sembari menyerahkannya kepada para tamu yang hadir.
Selanjutnya Plh.Sekda Alor, Obeth Bolang,S.Sos,,M.Si., mewakili Bupati Alor, Iskandar Lakamau,S.H.,M.Si., dan Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo,S.H.,M.H., untuk menyampaikan sambutan sekaligus membuka workshop dimaksud. Obeth menyampaikan selamat datang dan terima kasih dari Pemkab Alor kepada Anggota DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat, yang melaksanakan kunjungan kerja atau reses selama seminggu lebih di Alor. Terima kasih dan penghargaan yang sama kepada BPKP RI dan BPKP RI Perwakilan NTT yang memfasilitasi dan membiayai kegiatan dimaksud.
Lebih lanjut Obeth mengemukakan berbagai program Pemerintah Kabupaten Alor dibawah kepemimpinan Iskandar Lakamau-Rocky Winaryo sudah berada di tahun kedua, serta berbagai potensi di daerah ini. Obeth Bolang juga mengemukakan sejumlah kesulitan yang dihadapi Pemkab Alor setelah adanya efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat sehingga terjadi pengurangan dana transfer daerah untuk Alor sebesar Rp 145 Milyar.

Obeth Bolang,S.Sos.,M.A.P
Kepada 18 camat dan 158 kepala desa se-Kabupaten Alor yang hadir, Obeth menekankan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat, karena berkaitan dengan pembekalan, pendampingan dalam pengelelaan keuangan desa, sehingga kiranya harus ditindak lanjuti secara baik. Pada Selasa (3/3/2026) juga berlangsung kegiatan serupa bersama BPK RI yang juga disponsori oleh Anggota DPR RI, Julie Sutrisn Laiskodat,B.B.A.
Karena itu, demikian Obeth, Pemerintah Kabupaten Alor menyampaikan rasa hormat dan bangga kepada Julie Laiskodat.
Selanjutnya, Plh.Sekda Alor, Obeth Bolang bertindak sebagai moderator workshop yang menghadirkan empat nara sumber. Pertama, Anggota Komisi XI DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat,B.B.A., membawakan materi bertajuk “Pengawasan DPR RI Terhadap Pelaksanaan Undang-Undang APBN dan Kebijakan Pemerintah Terkait Desa”. Kedua, Direktur Pengawasan dan Stabilitas Keuangan, Pembangunan dan Tata Kelola Pemerintah Desa pada BPKP RI, Dr.Arman S.Harahap,S.E.,M.M., menyajikan materi tentang Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa, Dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Desa Yang Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa”.
Ketiga, tampil Kajari Alor, Mohammad Nursaitias,S.H.,M.H., membawakan materi dengan topik, ‘Penegakkan Hukum Dalam Pengawasan Pengelolaan Keuangan Desa. Keempat, Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kupang, Delfiana Lase yang memaparkan materi secara daring, tentang “Mekanisme Penyaluran dan Pertanggungjawaban Dana Desa”.

Julie Sutrisno Laiskodat,B.B.A
Tampil pertama, Julie Laiskodat nampak sangat komunikatif dan bersemangat menyapa para kepala desa, camat dan semua yang hadir. Kesempatan itu ia menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Alor yang telah mempercayakannya sehingga menjadi Anggota DPR RI periode kedua.
Pada periode pertama, Julie menjadi Anggota Komisi IV DPR RI yang berhubungan pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan dan perikanan, serta kehutanan dan lingkungan hidup. Makanya periode pertama, ada yang menerima bantuan berupa cool box, alat tangkap ikan, mesin perahu motor, bibit-bibit pertanian, dan sejenisnya yang menjadi kebutuhan dasar di NTT.
“Sekarang, saya di Komisi XI DPR RI (yang urusannya terkait keuangan), maka hari ini BPKP dan akan datang lagi BPK di tanggal 3 Maret, adalah mitra kami di Komisi XI,”jelas Julie Laiskodat.
Meski di Komisi XI, ia meyakinkan para nelayan dan petani agar jangan khawatir nanti tidak dapat bantuan untuk usaha, karena ia bisa memperjuangkan setiap aspirasi masyarakat melalui semua komisi di DPR RI. Hal itu karena Julie Laiskodat mengungkapkan bahwa suami tercintanya, Viktor Bungtilu Laiskodat adalah Ketua Fraksi Nasdem di DPR RI, sehingga ia bisa membangun komunikasi dengan anggota Fraksi Nasdem sebanyak 69 orang, yang tersebar pada 13 Komisi di DPR RI, untuk mendapatkan program kegiatan.

Mengenai efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat, Julie Laiskodat yang juga sebagai Anggota Badan Anggaran DPR RI ini menegaskan bahwa bukan karena dipakai untuk kepentingan lain, tetapi karena uang negara dalam keadaan defisit sekitar Rp 700 Triliun setiap tahunnya. Tetapi, lanjut dia, hal itu tidak mematahkan semangat kita.
“Saya akan mendekatkan diri ke kecamatan melalui rumah aspirasi saya pribadi sebagai Anggota DPR RI di setiap kecamatan sehingga dapat menampung aspirasi masyarakat,”kata Julie Laiskodat.
Ia juga berbicara mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang harus didukung karena sangat bermanfaat lintas sektor. Dari total dana untuk MBG melalui Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar Rp 335 Triliun tersebut, jelas Julie Laiskodat, ada porsinya atau jatah untuk Kabupaten Alor.
“Saya hitung, ada sekitar Rp 1,5 Triliun setahun untuk Kabupaten Alor dalam setahun dari program MBG. Masalahnya sekarang, di Alor baru ada sembilan dapur MBG, tetapi akan tambah 92 dapur, dank arena Alor tergolong daerah 3T (Tertinggal,Terdepan,Terluar), rmiskin,maka akan mendapat (total) 120 dapur sesuai informasi dari (Plh) Sekda Alor,”ujar Julie Sutrisno.

Setiap dapur, lanjut Julie, memasak makanan untuk 2.500 – 3000 orang penerima manfaat. Sesuai yang dianggarkan, satu porsi (satu ompreng) untuk satu orang penerima manfaat sebesar Rp 15.000, dikalikan 3.000 orang, kali 120 dapur, dikali lagi 24 hari dalam satu bulan, maka totalnya sangat besar.
Julie merincinkan, bahwa dari alokasi dana MBG Rp 15.000 per orang itu, Rp 2000 untuk pemilik dapur, Rp 3.000 untuk biaya operasional seperti uang listrik, air bersih, termasuk honor/gaji karyawan dapur. Sedangkan Rp 10.000 untuk membeli bahan baku makanan, antara lain sayuran, buah-buahan, telur ayam, ikan, daging, bumbu-bumbu seperti bawang dan tomat.
“Masalahnya, seperti telur saja, yang ada di peternak kita tidak bisa mencukupi kebutuhan dapur MBG. Makanya mayoritas telur ayam didatangkan dari Jawa. Akibatnya, dana MBG yang Rp 1,5 triliun lebih itu haknya Alor, tapi akhirnya keluar lagi ke Jawa untuk beli telur. Bawang juga kita datangkan dari Bima-Nusa Tenggara Barat. Sebagai Anggota DPR RI yang sudah dinobatkan sebagai Putri Alor, saya tidak relah jatah Alor itu kita setor lagi ke daerah lain (untuk beli bahan baku makanan). Saya maunya jatah Alor itu kita rebut, supaya petani dan peternak kita bisa sejahtera,”tandas Julie.

Ia juga berbicara tentang Koperasi Merah Putih bisa bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) agar membantu masyarakat di desa-desa untuk usaha ayam petelur, ayam pedaging, tanam sayur dan buah-buah untuk disuplai ke dapur MBG.
“Jangan lagi satu kecamatan mendatangkan telur dari kecamatan lain untuk kebutuhan dapur MBG, tetapi desa-desa dalam kecamatan itu yang menjadi pemasok bahan baku makanan ke dapur MBG,”himbau Julie Laiskodat. (ap/linuskia)