Pdt.Yandri Manobe “Bikin Hebo” di Natal Oikumene Pemkab Alor. Ima Blegur Wakili Gubernur NTT

author
9 minutes, 5 seconds Read

PERAYAAN Natal Bersama secara Oikumene Tingkat Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur yang melibatkan Umat Kristen Protestan dari berbagai denominasi dan Umat Katolik, serta dihadiri umat non Kristiani lainnya, berlangsung khusuk dan meriah di Aula Harmoni Isak-Ismail, kawasan Aikoli Kang, Kelurahan Welai Barat, Kecamatan Teluk Mutiara, Senin (27/12/2021) sore, berkat kesigapan Bagian Kesra Setda Alor yang dikepalai Yuni Laba,S.S.
Pemimpin Umat dan Tokoh Agama setempat yang hadir memimpin perayaan ini antara lain Pdt.Kondrad Penlaana,S.Th., yang dikenal sebagai Ketua Klasis Kabola, Pdt.Ratu Pay Djobo,S.Th., Pastor Paroki Yesus Gembala Yang Baik Kalabahi, Romo Marselinus Seludin,Pr., serta Pendeta tamu yang populer karena punya kharisma tersendiri, Pdt Yandri Manobe,S.Th.
Yang disebut terakhir merupakan pendeta yang sangat populer sekarang ini, karena talenta yang dimilikinya, terutama ketika membawakan renungan atau kotbah, dengan gaya bahasa, intonasi suara, dan gerak tubuh dalam mengangkat hal-hal kontekstual yang membuat orang lupa waktu dan terpingkal-pingkal. Yah.. orang tertawa terpingkal-pingkal karena Pdt.Yandri Manobe selalu menyelingi kotbanhnya dengan contoh-contoh konkrit dalam dinamika kehidupan manusia, menggunakan kosa kata yang sederhana dalam dialeg Kupang maupun Alor, diikuti ‘aksi teatrikal’; yang sangat mengena. Ada yang tertawa lepas, ada yang tertawa sambil angguk-angguk, ada yang tertawa sambil geleng-geleng, ada yang sambil pegang perut. Semua tentu tergantung dengan suasana batin setiap orang yang mendengarnya, lalu merefleksikan perjalanan hidup masing-masing sejauh ini.
Pdt.Yandri Manobe memang tampil memukau dalam Natal Oikumene Pemkab Alor yang dihadiri Komisaris Besar (Kombes) Pol.DR.Dominicus Yempormase mewakli Kapolda NTT dan DR.Imanuel E.Blegur mewakili Gubernur NTT ini.
Menurut Manobe, Natal itu bukan sebuah tontonan tetapi sebuah tuntunan untuk berjumpa dengan Kristus. Natal juga sebuah tantangan.

Pdt.Yandri Manobe,S.Th (paling kanan), bersama Bupati Alor, Amon Djobo dan seluruh umat Kristiani yang hadir bernyanyi bersama lagu natal Malam Kudus sambil menfangkat lilin yang sedang menyala

“Tantangan kita hari ini adalah sesuai dengan tema Natal kita, yakni Cinta Kasih Kristus Menggerakan Persaudaraan. Harapannya, setelah Natal ini, persaudaraan kita menjadi sebuah persaudaraan yang baik. Ini pergumulan kita semua tentang persaudaraan,”tandas Manobe.
Hal-hal kontekstual yang disoroti Manobe antara lain menyangkut kesetiaan hidup suami istri dalam membangun rumah tangga. Saat awal-awal berjumpa, kata Manobe, suami bilang istri adalah “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Tetapi ketika ada masalah, laki-laki selalu bilang, “perempuan sumber masalah”. Persaudaraa, demikian Manobe, termasuk mencintai mama (istri) di rumah.
“Jangan mencintai mama di luar rumah. Di Alor ada yang cinta mama di luar rumah? Tanya Manobe. Terdengar suara yang menjawab, ada, sambil tertawa.
Membangun persaudaraan, kata Manobe, harus sama-sama taat pada kebenaran. Persaudaraan juga, lanjut dia, dimulai dari penerimaan terhadap diri sendiri. Manobe berpendapat, yang biasa bermasalah dengan dirinya akan membuat masalah di mana-mana.  Persaudaraa itu, lanjut pendeta yang punya suscriber ratusan ribu orang di youtube miliknya itu, harus ikut aturan. Dia mencontohkan, seperti kita mengendarai sepeda motor, kalau pakai helm, ada SIM, STNK dan kelengkapan motor ada, maka saat ada operasi Polisi Lalu Lintas, kita tetap berani melintas.
“Yang biasa buat kita takut itu karena tidak ikut aturan. Yang biasa jadi masalah itu, tulis Rp 10.000, bayar hanya Rp 7.500. Itu yang jadi masalah. Saudara kalau kerja ikut aturan, maka petugas pemeriksa mau datang periksa juga kita tidak takut. Biasanya kalau kita salah, menjelang pemeriksaan itu kita tidak pulang rumah, sengaja sibuk. Jadi kalau ikut aturan itu paling aman,”tandas Manobe.
Kebenaran itu berdmensi moral. Moralitas itu, jelas Manobe, merupakan kesatuan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Karena, demikian Manobe, tidak semua yang kelihatan baik, dibangun di atas moralitas yang baik. Menurutnya, kadang-kadang penuh kepalsuan dan penderitaan. Diingatkannya, tidak semua senyum tulus.

Mereka khusuk menyanyikan lagu Malam Kudus dengan lilin di tangan

“Sebab ada orang yang berpikir lain, omong lain, bikin lain. Hasilnya apa, kelainan. Orang yang kelainan itu karena tidak sinkron antara apa yang dipikirkan, apa yang diucapkan dan apa yang dia perbuat. Di Alor ada..? Dia ada duduk di sini? Tanya Manobe, disambut tawa ribuan Aparatur Sipil Negara berseragam KORPRI yang mengikuti perayaan Natal Oikumene itu.
Kebenaran itu, lanjut Manobe, berdimensi sosial, yakni kepekaan untuk turut mengambil bagian dalam penderitaan orang lain. Baginya ini hal serius sehingga butuh kepekaan. Natal itu, demikian Manobe, merupakan peristiwa solidaritas, dimana Kristus Tuhan turun serendah-rendahnya menjadi manusia. Persaudaraan itu saling melayani.
“Tetapi sosialitas kita bermasalah, kepekaan kita bermasalah. Saya sering pakai contoh ini. Apakah ada yang pernah tawar barang di Lippo? Di Swalayan pernah tawar? Tidak. Padahal pemilik Lipo itu orang kaya. Tetapi kalau pergi ke Pasar Tabakar (Pasar Inpres Lipa Kalabahi) untuk beli sayur yang dijual seorang nenek tua, itu dia pung tawar mengerikan. Padahal pembeli itu baru turun dari mobil Inova , pake baju KORPRI, di tangan kanan ada Iphone, di tangan kiri ada Samsung terbaru, ada mutiara di dalam tas, rantai emas 1 Kg, tetapi tawar sayur dari 3 seribu menjadi 9 seribu. Itu terlalu durhaka,”tandas Manobe.
Lebih jauh Manobe menganalogikan, bahwa mengelola persaudaraan itu seperti makan kolak. Ia merincikan, kolak itu antara lain terdiri dari ubi, pisang, santan, gula. Saat makan kolak, pisang masih tetap rasa pisang, demikian pula ubi, santan dan gula karena tidak ada upaya untuk saling menghilangkan rasa.
“Tidak ada yang bikin diri inti. Di sini biasa ada yang bikin diri inti? Tanya Manobe retoris, sembari menambahkan, bahwa jangan mengelola persaudaraan seperti minum kopi.
“Kopi itu terdiri dari kopi, gula dan air panas. Tetapi setelah jadi, namanya kopi. Jadi kopi itu terlalu egois. Tembok terdiri dari semen, pasir, batu, air. Waktu sudah jadi tembok, pasir tidak kelihatan. Dalam sebuah kebersamaan, mungkin kita tidak kelihatan. Dalam senuah persaudaraan, mungkin saudara kelihatan karena berbadan besar, tetapi bukan berarti orang lain tidak ada,”pungkas Manobe.
Usai kotbah Pdt.Yandri Manobe, dilanjutkan dengan doa berantai oleh sejumlah pendeta dan Pastor Paroki Yesus Gembala Yang Baik Kalabahi.

Bupati Alor, Drs.Amon Djobo

Bupati Alor, Drs.Amon Djobo dalam sapaannya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Pdt.Yandri Manobe yang memenuhi undangan Pemkab Alor, dan membawakan kotbah yang luar biasa karena mengangkat hal-hal kontekstual, dengan gaya yang membuat semua orang tertawa.
Dalam acara yang dihadiri pula Dandim 1622 Alor, Letkol (Inf) Supiyan Munawar,S.Ag., Kapolres Alor, AKBP.Agustinus Chrismas,S.IK serta sejumlah tokoh dan sesepuh daerah ini, Bupati Djobo menyampaikan refleksinya selama kurang lebih tujuh tahun bersama Wakil Bupati Imran Duru,S.Pd.,M.Pd memimpin Kabupaten Alor.
“Mudah-mudahan Tuhan memberkati upaya-upaya yang dilakukan pa Kapolres Alor, pa Dandim 1622 Alor, pa Wakil Bupati dan seluruh pimpinan OPD yang telah mendukung kepemimpinan saya dan bapa wakil bupati, dan masih tersisa kurag lebih tiga tahun. Perguliran kepemimpinan akan secara alamiah akan bergeser. Saya dan pa wakil bupati bersama keluarga menyampaikan permohonan maaf, apabila kpemimpinan kami di Tahun 2021 ini, ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penatalayanan,”tandas Djobo.

Staf Khusus Gubernur NTT, DR.Imanuel E.Blegur,M.Si

Sedangkan DR.Imanuel E.Blegur,M.Si., mewakili Gubernr NTT, Viktor B.Laiskodat yang berhalangan hadir karena punya agenda berdiskusi dengan Menteri BUMN, Erick Tohir, tentang realisasi energi baru terbarukan, khususnya solar cell di Sumba Timur. Imanuel dalam sambutannya menyampaikan pesan gubernur Laiskodat kepada Bupati Alor.
“Pertama, bapak gubernur berpendapat bahwa visi bupati dan wakil bupati Alor, adalah visi yang paling nyata, paling konkrit karena tidak panjang. Visinya jelas, Alor Kenyang, Alor Sehat, Alor Pintar. Kalau persaudaraan yang kita bahas hari ini, maka bapak gubernur pesan, agar persaudaraan itu jangan diberikan kepada orang-orang yang ada pada golongan atas, jangan diberikan kepada orang-orang yang sudah mampu, tetapi diarahkan kepada mereka yang berkekurangan, mereka yang miskin, yang terpinggirkan, yang masih mengalami kesulitan-kesulitan hidup,”kata Imanuel.
Lebih lanjut, Imanuel menginformasikan bahwa Gubernur NTT sedang mengembangkan satu skema baru yang disebut program Tanam Jagung Panen Sapi, tetapi tidak menggunakan APBD. Jatah Alor dalam program ini, ungkap Imanuel, yakni seluas 5.800 hektare, tetapi bupati Alor, Amon Djobo menghendaki agar jatah Alor di atas target propinsi NTT, yakni 15.000 hektare.
“Jadi tahun depan, mulai bulan Februari, Alor akan mengembangkan 15.000 hektare program Tanam Jagung Panen Sapi. Dalam 1 hektare bisa menghasilkan sekurang-kurangnya 7 ton jagung. Ini skema baru sehingga rakyat tidak perlu pusing. Karena dukungan traktor datang dari Pemerintah Propinsi NTT, bibitnya datang dari pembeli, kemudian pembeli akan membeli di tempat petani tanam. Pupuknya datang dari pembeli, bekerja sama dengan Bank NTT. Harga sudah dipatok dengan harga terendah Rp 3.200/Kg. Kalau fluktuasi harga naik, ya naik, tidak boleh di bawah Rp 3.200. Kalau dalam 1 hektare bisa menghasilkan 7 ton jagung, maka sekurang-kurangnya petani akan mendapat uang antara Rp 22 juta sampai Rp 23 Juta sekali panen dalam setahun,”papar Imanuel.

Ribuan ASN Pemkab Alor berseragam KORPRI saat mengikuti Perayaan Natal Oikumene Tingkat Kabupaten Alor

Selain jagung, Imanuel juga mengatakan bahwa gubernur Laiskodat akan mengembangkan budidaya lobster, dimana lobster juga sangat potensial di perairan Alor. Pemerintah pusat, kata Imanuel, saat ini memberikan bantuan kepada Pemerntah Propinsi NTT sebesar Rp 100 Milyar, dalam rangka pembangunan 400 kerambah untuk ikan kerapu dan kakap putih.
“Kerapu dan Kakap Putih adalah komoditi yang tidak pernah jenuh di pasar dunia. Saya kira Alor juga punya daerah pantai yang sangat subur untuk budidaya ikan kerapu, kakap putih maupun lobster. Bapak gubernur juga berpesan, agar kemajuan yang sudah dicapai kita pertahankan, tetapi sekarang kita fokuskan untuk menolomg mereka yang miskin,”tandas Imanuel.
Menurutnya Alor masih tergolong miskin, tetapi tidak seekstrim yang ada di Sumba. Imanuel menyebut tujuh kabupaten termiskin di NTT yakni Kabupaten Sumba Tengah, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, dan seterusnya hingga Kabupaten Alor di urtan ke 18 dari 22 kabupaten/kota di NTT.

Kombes.DR.Dominicus Yempormase

Sementara itu, Kabid Propam Polda NTT, Kombes Pol.DR.Dominicus Yempormase yang mewakili Kapolda NTT, dalam sambutannya menekankan pentingnya bersinergi dengan baik, termasuk dalam hal pencapaian prosentase minimal 70 % vaksin Covid-19 pada 31 Desember 2021. Per hari ini, Senin (27/12/2021), ungkap mantan Kapolres Alor ini, bahwa prosentase warga Kabupaten Alor yang telah divaksin Covid-19 mencapai 60 %, sehingga masih tersisa 10 %.
“Kita masih punya waktu empat hari. Polisi, TNI, berada pada posisi terdepan membantu pemerintah daerah untuk mewujudkan 70 %. Mudah-mudahan dalam satu dua hari ini, bisa dipacu lebih baik, tinggalkan ego sektoral, kita bergandengan tangan, menyatukan langkah, bawa Alor mencapai prestasi itu,”pinta Yempormase.
Sosok peramah yang mencintai Alor ini mengaku bangga karena ada tukang ojek di Bandara Mali Alor yang masih mengenalinya, meski sudah delapan tahun meninggalkan Alor. Ia berkesan bawa akhir-akhir ini, melalui media sosial, banyak orang curhat tentang dinamka pembangunan di daerah ini. Hal itu dinilainya kurang elegan.

Dekorasi Aula Harmoni Isak-Ismail ysng indah, penuh dengan prrnak-pernik Natal. Nampak Kabag Kesra Setda Alor, Yuni Laba,SS., di antara Pohon Natal

“Bilamana pembangnan wilayah ini, ada hal-hal yang mungkin saja belum sesuai dengan harapan kita bersama, maka gunakan saluran-saluran yang baik, sesuai adat ketimuran kita. Saya kira, para pimpinan, pa bupati dan wakil bupati serta Forkopimda lainnya, tidak menutup mata dan telinga atas segala masukan yang kita sampaikan,”himbau Yempormase. (ap/linuskia)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *