DPRD Alor Ungkap Rekomendasi BPK Terkait Kelemahan Pariwisata Alor

author
3 minutes, 30 seconds Read

WAKIL Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Alor, Sulaiman Singhs,SH., mendampingi Wakil Bupati Alor, Imran Duru,S.Pd.,M.Pd., menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Untuk Tujuan Tertentu dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Selasa (11/1/2022), di Kantor BPK Perwakilan Propinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang. LHP BPK tersebut, rupanya terkait kinerja Pemerintah Kabupaten Alor dalam upaya memajukan sektor Pariwisata di daerah ini.
Sulaiman Singhs yang dikonfirmasi alorpos.com, Senin (17/1/2022) malam melalui telepon selulernya mengakui bahwa dia bersama Wakil Bupati Alor, Imran Duru serta Inspektur Irda Kabupaten Alor, Muhamad Iqbal dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, Ripka Jayati,S.Sos.,M.Si yang menerima LHP Kinerja Dengan Tujuan Tertentu Semester II Tahun 2021 di Kantor BPK Perwakilan NTT. LHP Kinerja dari BPK itu, jelas Singhs, untuk mengukur kinerja Pemerintah Kabupaten Alor tentang apa yang telah dilakukan di Bidang Pariwisata, dalam kurun waktu satu tahun, pada Tahun 2021.
“Karena untuk tujuan tertentu sehingga hasil pemeriksaannya detail, antara lain terkait pelayanan publik, jaringan yang dibangun, fasilitas pendukung, semuanya diaudit, dan diberi masukan atau rekomendasi,”tandas Singhs yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Alor ini.

Wakil Ketua DPRD Alor, Sulaiman Singhs (kiri) dan Wakil Bupati Alor, Imran Duru, saat menandatangani Berita Acara Penerimaan LHP BPK Perwakilan NTT di Kupang

Setiap obyek atau destinasi wisata, ungkap Singhs, menurut BPK harus ada pusat informasinya. Dari sekian banyak obyek atau destinasi wisata yang ada di Kabupaten Alor, demikian Singhs, BPK menilai hanya di Pantai Wisata Mali yang ada pusat informasinya. Di Sebanjar, Alor Kecil, Pulau Kepa, Jawa Toda Wato, Kampung Tradsional Takpala, Bampalola, Monbang, Pantai Lingal, Air Panas Tuti Adagae, Air Terjun di Mataru, Hutan Wisata Nostalgia , Puntaru, dan lain-lain itu, tidak punya pusat informasi.
“Mestinya pada setiap destinasi wisata, disiapkan pusat informasinya yang menyajikan gambaran atau data dan informasi tentang obyek wisata tersebut. Dengan demikian setiap wisatawan yang datang, bisa langsung mengakses informasi lengkap tentang obyek wisata tersebut dan apa saja bentuk pelayanannya bagi pengunjung,”kata Singhs.
Menurut politisi yang sudah tiga periode sebagai Anggota DPRD Alor ini, pariwisata itu berkembang baik jika disiapkan dengan fasilitas pendukung yang bagus. Misalnya akses jalan raya ke bukit Bedoe, Desa Huknani sebagai obyek olahraga wisata Paralayang, akses jalan ke Pantai Ling Al, dan sebagainya.
“Belum lagi kita bicara tentang dukungan dari sistim informasinya. Memang kita punya website semuanya sudah ada, tetapi itu masih minim informasi. Makanya harus ada kerja sama terpadu antara Dinas Pariwisata dan Infokom untuk pengelolaan informasi menyangkut potensi wisata dan promosi-promosinya,”saran Singhs.

Gerbang masuk ke Pantai Wisata Mali di Kelurahan Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor

Fasilitas penunjang di setiap destinasi wisata, seperti penginapan, restoran, artshop untuk menampung aneka kerajinan tangan khas Alor dan sebagainya, juga menurut Singhs harus ada, sehingga pengunjung bisa berbelanja sebagai cindramata untuk dikenang, bahwa dia pernah ke Alor.
“Hal-hal begini, di kita masih sangat minim sekali untuk mendukung sektor pariwisata. Itu yang direkomendasikan BPK, untuk segera dilakukan perbaikan-perbaikan, supaya mempunyai akses untuk bisa dibiayai, baik oleh pemerintah daerah (Pemkab Alor), maupun pemerintah pusat atau dari pihak lain (swasta) yang mungkin akan berinvestasi,”tandas Singhs.
Ia berpendapat, semua ini berkaitan dengan informasi, karena kita masih lemah dalam dukungan infrastruktur. Singhs menilai pendukung lainnya juga masih lemah, misalnya guide (pemandu wisata) profesional yang kurang, dive master (pemandu selam) yang kurang, kuliner dan artshop yang representatif belum ada, dan sebagainya.

Aneka kerajinan tangan sebagai cindramata yang dijual warga di destinasi wisata budaya, Kampung Tradisional Takpala, Kecamatan Alor Tengah Utara

“Saya ibaratkan Alor ini seperti perempuan cantik karena alam dan budayanya yang indah, tetapi kalau kemomos kan repot juga. Pariwisata seperti itu. Karena itu kita upayakan, agar bisa cantik natural sehingga bisa menarik kunjungan wisatawan ke Alor,”tandas Singhs.
Menurutnya, harus ada road map yang bagus tentang pariwisata Alor. Sebagai daerah wisata penyangga wisata utama NTT di Labuan Bajo, maka Singhs berharap agar Dinas Pariwisata dan OPD terkait lainnya harus saling bersinergi untuk memajukan Pariwisata di Kabupaten Alor.
“Kita kan mau mengandalkan keindahan alam kita. Keunggulan seni budaya kita, keberagaman hayati laut kita. Itu yang kita andalkan, maka infrastruktur ke arah ini harus diperhatikan pembangunannya, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,”pungkas Singhs. (ap/linuskia)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *