Dengan 30 Demplot, Distanbun Alor Antisipasi Kondisi Pangan Daerah. Yustus: Tidak Ada Gagal Panen

author
4 minutes, 3 seconds Read

KEPALA Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Alor, Yustus Dopong Abora,S.P., kepada media ini, Rabu (8/2/2023) di ruang kerjanya mengakui tahun ini produktifitas tanaman pangan terganggu akibat curah hujan. Menurutnya, curah hujan begitu tinggi kemudian mendung sepanjang hari hujan sehingga tidak ada sinar matahari, maka produksi pasti menurun.
Meski begitu, Yustus memastikan bahwa kondisi ini tidak mengganggu situasi pangan daerah secara signifikan. Ia mengakui bukan tugasnya untuk menghitung, tetapi sesuai pengalamannya selama ini, dia pastikan tidak ada gagal panen.
“Kita tetap panen tetapi produksinya agak rendah. Soal pilihan untuk pangan alternatif, di Alor ini sudah sejak jaman dulu selalu tersdia, sehingga kalau bilang orang Alor lapar itu, bagi saya tidak mungkin. Saya selalu pakai istilah, bahwa mulut orang Alor itu mulut macam-macam, bukan mulut beras atau mulut tempe sehingga jika beras atau tempe tidak ada mereka setengah mati,”tegas Yustus.
Salah satu antisipasi ketersediaan pangan alternatif, maka Yustus dan jajarannya menyalurkan satu ton benih kacang hijau kepada petani di desa-desa yang mengajukan permintaan, dan sedang ditanam saat ini. Ia mencontohkan di Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut sudah menanam kacang hijau di atas lahan seluas satu hektar sebagai percontohan.

Foto: Irfan Panara

“Jadi sudah kita antisipasi situasi dan kondisi pertanian daerah untuk menghadapi musim tanam. Saya selalu memotivasi petani di 30 Demplot (salah satu metode penyuluhan yang dipilih oleh penyuluh pertanian agar teknologi yang diinformasikan lebih mudah diterima petani, sehingga petani diharapkan lebih cepat tahu, mau dan mampu melaksanakan kegiatan pertanian dengan contoh yang nyata) untuk mengantisipasi situasi pangan. 30 Demplot itu kita bagi di komoditi semangka, lombok, tomat dan bawang merah. Jadi 30 Demplot itu ada di 17 kecamatan , dengan masing-masing target,”tegas Yustus.
Menurut Yustus, masing-masing demplot diberikan dana Rp 5 Juta denga target produksi masing-masing. Ia mencontohkan, untuk komoditi semangka, paling rendah harus menanam 1000 pohon. Yustus menargetkan, jika 1000 pohon semangka itu bisa menghasilkan 2000 buah semangka. Kalau ada empat demplot yang menanam, maka total sudah menghasilkan 8000 buah semangka disediakan untuk kebutuhan masyarakat Kabupaten Alor.
“Sedangkan tomat, saya suruh setiap orang tanam 7000 pohon. Demikian pula dengan lombok 7000 pohon. Kita tidak usah hitung hektare (luas lahan tanam) tetapi hitung populasi tanaman saja. Kadang-kadang kita omong hektare tetapi hanya sedikit tanaman di dalam. Kalau satu pohon lombok menghasilkan setengah kilo gram lombok maka sekitar 3,5 ton lombok kita hasilkan untuk kebutuhan daerah. Kira-kira begitu,”jelas Yustus.
Tak hanya itu. Yustus yang jebolan Universitas Timor Timur ini juga sedang memotvasi petani untuk mengembangkan bawang yang menanamnya pakai benih. Ada petani, kisah Yustus, sudah pernah coba tanam satu bungkus benih bawang itu di Alor, dan menghasilkan 250 Kg bawang. Karena itu Yustus meminta yang bersangkutan untuk menanam empat atau lima bungkus benih bawang tersebut, dan kalau bisa menghasilkan satu atau dua ton bawang saja, bagi Yustus sudah cukup untuk menetralisir harga pasar di Kalabahi.

Halaman Kantor Distanbun Kabupaten Alor di Kelurahan Welai Barat yang dipenuhi aneka tanaman pangan

Sistim Demplot ini menurut Yustus punya dua dampak, yakni ketersediaan holtikultura untuk dijual, dan kedua untuk mendukung penerimaan daerah.
“Jadi hasil yang dijual masing-masing demplot itu punya konribusi penerimaan bagi daerah. Lokasi demplot dibawah kendali Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di masing-masing kecamatan, untuk dijadikan contoh,”tandas Yustus.
Untuk menjual hasil produksi setiap demplot, hitung-hitngan Yustus, dari 1000 pohon yang ditanam, satu pohon menghasilkan dua buah, maka sudah menghasilka 2000 buah. Dari 2000 buah semangka itu, kali dikalikan dengan harga jual di pasaran senilai Rp 20.000/buah, maka sudah memperoleh uang sebesar Rp 40 Juta.
“Dari total harga jual sebesar Rp 40 juta itu, hanya memberikan kontribusi penerimaan kepada daerah sebesar Rp 1 Juta saja, yang lainnya milik petani. Yang penting dampaknya ada buah-buahan untuk Alor,”ujar Yustus memotivasi.
Saai ini, lanjut Yustus, semangka dan tomat sudah tidak masuk lagi dari luar daerah ke pasar-pasar di Kalabahi. Sebelumnya Yutus mengakui bahwa dalam seminggu itu ada sekitar 100 buah semangka yang masuk ke Alor dari Makasar.
“Tetapi begtu kita sudah mulai tanam dan berproduksi, maka semangka sudah tidak masuk lagi (di Alor). Bulan ini juga sudah mau panen semangka yang ditanam salah seorang pensiunan TNI di Mali,”beber Yustus.

Anis Obisuru,S.Pd., guru SMKN Kokar sedang merawat tanaman jagung. Foto: FB Anis Obisuru

Kaitan dengan pemanfaatan curah hujan saat ini, Yustus menegaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan surat himbauan kepada setiap BPP agar memotivasi petani dengan menanam ubi-ubian dan kacang-kacangan. Bahkan yang mau menanam lagi jagunya juga diperbolehkan Yustus dalam memanfaatkan sisa hujan yang ada.
“Kalau kita bandingkan tahun lalu dengan tahun ini. dari sisi volume hujan, maka tahun ini lebih banyak. Sedangkan dari sisi hari hujan, tahun ini pendek, tahun lalu panjang. Volume air yang terlalu tinggi dalam sehari itu tidak bagus bagi ketersediaan air untuk tanaman. Jagung itu kalau hujanna sedikit tetapi rutin maka pertimbuhannya bagus. Tetapi kalau hujan lebat sepanjang hari dan mendung, tidak ada cahaya matahari, maka tidak bagus untuk tanaman, terutama jagung,”pungkas Yustus. (ap/linuskia)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *