Bawaslu Alor Ajak Pemilih Pemula Awasi Pemilu. Kande: Generasi Z itu Pemilih Terbanyak

author
12 minutes, 56 seconds Read

SELAMA dua hari, yakni 15 dan 16 November 2022 lalu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur menggelar kegiatan Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif kepada Pemilih Pemula. Pantauan alorpos.com, Amir Bapang,S.Pt selaku Plh.Ketua Bawaslu Kabupaten Alor, membuka kegiatan ini, Selasa (15/11/2022) malam di aula Hotel Pelangi Indah Kalabahi. Kegiatan sosialisasi yang dihadiri puluhan pelajar dan guru-guru pendamping dari berbagai SMA/MA/SMK di kota Kalabahi dan sekitarnya itu, menampilkan narasumber utama, Dr.Fredik Abia Kande,S.Pd.,M.Pd., akademisi dari Univesitas Tribuana Kalabahi.
Amir Bapang menginfotmasikan bahwa saat itu Ketua Bawaslu Alor, Dominika Deran,S.Pd sedang bertugas dinas ke luar daerah, maka dia dipercayakan sebagai Pelaksana Harian (Plh) Ketua Bawaslu setempat dalam pelaksanaan tugas-tugas lembaga itu, termasuk membuka kegiatan tersebut.
Selanjutnya Amir menegaskan, bahwa berbicara mengenai pengawasan partisipatif, tentu Bawaslu punya dasar hukum yani Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, khususnya Pasal 448-449 yang mengatur tentang peran serta masyarakat dalam mensukseskan pesta demokras atau Pemilu yang akan dilaksanakan secara serentak pada Tahun 2024.

Anggota Bawaslu Alor, Amir Bapang,S.Pt (kiri) dan Orias Langmau,SE

“Karena itu, pada malam hari ini, Bawaslu kembali mengajak, karena ini bukan pertama kali Bawaslu melaksanakan kegiatan serupa, untuk berdiskusi terkait apa peran yang mesti dimainkan oleh generasi muda, terkhusus para pelajar kita,”ujar Amir.
Dijelaskan Amir, bahwa syarat menjadi pemilih adalah mereka yang telah berusia minimal 17 tahun, sehingga para pelajar SMA/sederajat saat ini, tentu sudah berusia minimal 17 tahun pada saat Pemilu setentak Tahun 2024, sehingga mejadi bagian dari pemilih pemula. Oleh karena itu Bawaslu merasa bahwa generasi muda itu sangat penting sebaga ujung tombak perubahan demokrasi. Kalau selama ini ada anggapan bahwa politik itu kotor, maka Amir yakin bahwa di tangan para pelajar bisa meyakinkan bangsa dan daerah ini bahwa generasi muda punya semamgat yang sama untuk merubah pandangan bahwa politik itu akan memberika manfaat yang besar bagi bangsa dan negara pada umumnya.
“Karena itu kami mengajak adik-adik pelajar untuk kita berbicara tentang apa peran generasi muda dalam menyikapi hal ini, termasuk mensukseskan Pemilu yang demokratis,”tandas Amir.

Koordinator Sekretariat Bawaslu Alor, Ruth Kafelbang,SE

Sementara itu, Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Alor, Ruth Kafelbang,SE ketika menyampaikan laporan panita kegiatan, antara lain mengetengahkan bahwa Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif Bawaslu Kabupaten Alor Tahun 2022 ini, dalam rangka mewujudkan kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan fungsi pengcegahan dan pengawasan. Ruth menegaskan bahwa salah satu kunci terwujudnya Pemilu berkualitas adalah masyarakat.
“Dalam mewujudkan pelaksanaan Pemilu yang demokratis, maka sangat dibutuhkan kerja sama antara Penyelenggara Pemilu dan seluruh elemen masyarakat, terutama dalam melaksanakan tugas pengawasan. Hal itu karena mengingat terbatasnya jumlah pengawas Pemilu jika dibandingkan dengan kompleksitas Pemilu dan bentuk pelanggaran yang semakin beragam,”ujar Ruth.
Karena itu, lanjut dia, Bawaslu Kabupaten Alor dalam tugas-tugas pengawasannya, berupaya membangun koordinasi dan komunikasi yang baik, terutama dengan Pemilih Pemula. Hal itu, demikian Ruth, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 1 Ayat 34 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017. Pemilih Pemula juga diharapkannya mampu menjadi corong informasi, dalam memberikan edukasi kepada keluarga tentang tantangan Pemilu yang dihadapi seperti politik uang, ujaran kebencian, dan berita bohong.
Pemilih Pemula juga, sambung Ruth, agar dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik untuk memilih para pemimpin dan wakil-wakil rakyat, yang akan menentukan arah pembangunan bangsa, dalam menjamin cita-cita negara, yaitu kesejahteraan rakyat. Baginya, pengawasan partisipatif menjadi salah satu hal yang penting, karena Pemilu merupakan komponen krusial dalam proses demokrasi, terlebih kesadaran pemilih pemula dan keikutsertaannya dalam pengawasan, demi menciptakan Pemilu yang demokratis.
Mengenai maksud dan tujuan kegiatan ini sebagaimana disampaikan Ruth, yakni mengoptimalkan peran serta pemilih pemula sebagai pengawas Pemilu, membangun kemampuan komunikasi dengan seluruh elemen sekolah tentang perngawasan partisipatif dan membangun basis pengawasan partisipatif di lingkungan pelajar.
Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari, yakni Selasa (15/11/2022) hingga Rabu (16/11/2022) di aula Hotel Pelangi Indah Kalabahi. Ruth melaporkan bahwa peserta kegiatan itu berjumlah 40 orang, terdiri dari sejumlah SMA/MA/SMK di Kalabahi dan sekitarnya, yang masing-masing mengutus dua siswa dan satu guru pendamping. Sedangkan narasumber dalam kegiatan ini, kata Ruth, yakni Ketua Asosiasi Dosen Metodology Penelitian Indonesia Wilayah NTT, Dr.Fredik Abia Kande,S.Pd.,M.Pd.
Ruth kemudian menutup laporannya dengan berpantun, “Ada orang punya bakat, kemudian ingin menjadi artis. Mari jaga hati masyarakat demi Pemilu yang demokratis. Jalan-jalan ke Kantor Bawaslu tidak lupa membawah srikaya, pemilih pemula janganlah ragu, sukseskan Pemilu, Indonesia jaya”.

PEMILIH TERBANYAK DARI GENERASI Z

Dr.Fredik Abia Kande,S.Pd.,M.Pd selaku narasumber

Selanjutnya, Dr.Fredik A.Kande,S.Pd.,M.Pd menyampaikan materinya bertajuk Peran Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pemilu. Kande berterima kasih kepada Bawaslu karena memberi kesempatan kepada pemilih pemula, untuk berperan sebagai warga negara yang ikut menentukan masa depan bangsa da negara. Menurut Kande, setiap kali memasuki Pemilu, biasanya kita berada dalam situasi atau kondisi yang khusus, karena ada banyak kesibukan yang dilakukan banyak pihak, misalnya partai politik, KPU, Bawaslu, figur-figur politisi yang mencalonkan diri sebagai calon legislatif, calon pemimpin daerah, maupun calon pemimpin nasional. Dari segi ekonomi juga, lanjut Kande, mulai terlihat banyak dagangan terkait atribut-atribut Pemilu, atribut Parpol peserta Pemilu.
“Khusus kita yang ada di sekolah, khususnya adik-adik pelajara SMA/SMK juga diajak untuk menyambut Pemilu dengan persiapan-persiapan khusus. Sejarah mencatat bahwa sejak Indonesia merdeka, kita sudah 12 kali menyelenggarakan Pemilu, mulai Pemilu pertama di Tahun 1955 dan ke-12 pada Pemiu 2019. Saat ini kita menuju Pemilu 2024. Setiap kali Pemilu dilaksanakan, bangsa kita itu sebetulnya belajar bagaimana berdemokrasi, dan bagaimana mengelola urusan-urusan politik.
Lebih lanjut, Ketua Asosiasi Dosen Metodologi Penelitian Indonesia Wilayah NTT ini mengemukakan jumlah penduduk Indonesia berdasarkan generasi. Berdasarkan sensus penduduk Tahun 2020, hanya 1,87 persen penduduk yang berusia di atas 74 tahun. Sedangkan yang berusia 56-74 Tahun sebanyak 11,56 %. Generasi X yang berusia 40-55 tahun sebanyak 21,88 persen. Generasi Milenial itu berusia 24-39 tahun sebanyak 25,87 %, sedangkan Generasi Z yang berusia 8-23 tahun sebanyak 27,94 %. Itu artinya, kata Kande, Generasi Z itu pemilih terbanyak, sehingga sangat menentukan pemimpin negara dan daerah ini kedepan.
“Adik-adik ini merupakan kelompok yang akan diperebutkan oleh siap saja yang berkepentingan meraih kekuasaan di Tahun 2024. Posisi addik-adik ini, sangat-sangat strategis. Sangat-sangat penting, karena setiap satu diri itu sangat berharga. Masing-masing kita adalah aset negara, aset bangsa dan daerah sehingga jangan pernah menganggap diri kecil,”himbau Kande memotivasi.
Menurut Kande, pemilih muda itu dalam rentang usia 17-37 tahun, sehingga saat ini sedang dikejar. Sejumlah partai politik gencar mendorong generasi muda untuk menjadi calon legislatif, misalnya menggaet artis yang menjadi idola anak-anak muda.

Dr.Fredik A.Kande (depan kelima dari kiri) ketika foto bersama peserrta  di Aula Hotel Pelangi Indah Kalabahi

Jika berkaca pada Pemilu Tahun 2019, ungkap Kande, data dari KPU memperlihatkan bahwa jumlah pemilih muda sudah mencapai 70 juta – 80 juta orang, dari total 193 juta pemilih, atau sebanyak 35-40 persen. Doktor pertama di Universitas Tribuana Kalabahi ini berpendapat bahwa pemilih muda mempunyai kekuatan dan memiliki pengaruh besar terhadap hasil Pemilu yang nantinya berpengaruh kepada kemajuan bangsa.
Menurut Kande, sejumlah survey menunjukkan Generasi Milenial dan Generasi Z, diprediksi menjadi kelompok pemilih dengan proporsi terbesar di Pemilu 2024. Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada 1997-2012, dan sekarang berusia 8-23 tahun. Sedangkan Generasi Milenial itu mereka yang lahir pada 1981-1996, dan saat ini berusia 24-39 tahun. Pemilih muda itu mencakup Generasi Z dan Generasi Milenial, yang merupakan pemilih dengan rentang usia antara 17-37 tahun. Kande memprediksi, bahwa pada Pemilu serentak 2024, jumlah pemilih muda akan mengalami peningkatan luar biasa.
“Tantangan bagi kita sekarang adalah, apakah jumlah yang banyak ini akan berbanding lurus dengan jumlah partisipasi yang banyak juga dalam Pemilu. Atau naik jika dibandingkan dengan Pemilu sebelumnya, atau malah turun. Kalau turun, maka kita tentu sangat khawatir karena Generasi Milenial dan Generasi Z ternyata belum bisa menetapkan hak politiknya secara baik, untuk menentukan arah perjalanan bangsa dan negara ini,”tegas Kande, sembari mengingatkan bahwa pada masa lampau, anak-anak muda beranggapan bahwa Pemilu itu urusan orang dewasa, sebuah anggapan yang sangat keliru, sehingga saat ini negara mengucapkan welcome, selamat datang kepada Generasi Z.

Para pelajar peserta sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif bersama Anggota Bawaslu Alor

Harapannya agar partisipasi Generasi Milenial dan Generasi Z dalam Pemilu mengalami peningkatan, bukan menurun. Menurut Kande, kalau kita mengangap bahwa mereka yang sedang memimpin negara saat ini tidak memuaskan rakyat, maka kita bisa memilih pemimpin yang lebih baik lagi, dan itu hanya bisa dilakukan melalui Pemilu. Karena itu semua pihak diharapka berpartisipasi aktif, termasuk dalam hal pengawasan partisipatif agar menciptakan Pemilu yang berkualitas dan demokratis untuk melahirkan pemimpin yang berkualiats pula.
“Mari ikut Pemilu dan awasi, supaya kita memilih pemimpin-pemimpin yang bersih. Kita selenggarakan Pemilu secara jujur, adil, langsung, umum, bebas,rahasia dan berkeadaban,”ajak Kande.
Lebih lanjut Kande lebih banyak menjelaskan terkait Pemilu yang berkeadaban, dimana menurutnya sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan enam asas Pemilu yang lainnya. Kalau Pemilu sudah dilaksanakan dengan Jurdil dan Luber, demikian Kande, maka itu disebut Pemilu yang beradab. Ia berpendapat, bahwa orang yang terlibat dalam Pemilu, tanpa ada yang merasa tersakiti, tanpa ada yang merasa kalah dan menang, tanpa ada yang merasa tersolimi.
“Harus dikembangan sikap saling meghormati, saling menghargai, tidak diskriminatif, tidak intimidasi. Itulah ciri-ciri yang namanya keadaban politik. Di daerah kita ini juga, kadang-kadang orang yang kalah, tidak mau menerima kekalahan, dan orang yang menang, sulit merangkul yang kalah. Ini menunjukan ketidakadaban politik”ujar Kande.
Ia mendokan agar Generasi Milenial dan Generasi Z harus tampil dengan keadaban politik yang baik. Menurutnya, keterlibatan masyarakat, merupakan kunci keberhasilan dalam mewujudkan proses demokrasi yang Luber dan Jurdil. Kalau masyarakat tidak terlibat, lanjut Kande, bisa terjadi manipulasi, atau permasalahan yang lebh rumit lainnya. Karena itu, ia menekankan bahwa harus ada yang mengawasi dan ada yang memantau penyelenggaraan Pemilu oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok milenial dan Generasi Z.
“Adik-adik sekalian harus mempersiapkan diri untuk terlibat dalam Pemilu, supaya adik-adik punya preferensi-preferensi politik yang baik. Keterlibatan masyarakat, termasuk adik-adik Generasi Z dalam pengawasan Pemilu itu, untuk mencegah berbagai penyimpangan Pemilu seperti politik uang, kampanye hitam, ujaran kebencian, penyebaran berita hoax, manipulasi suara, ancaman terhadap penyelenggara dan saksi,”tandas Kande.

Para pelajar dan guru pendamping sedang menyimak materi yang disampaikan Anggota Bawaslu Alor, Amir Bapang,S.Pt

Ia menilai Generasi Z lebih pandai dalam menggunakan teknologi seperti smartphone, sehingga diharapkannya agar Generasi Z dapat memafaatkan fasilitas yang ada untuk mencegah berbagai hal negatif seperti ujaran kebencia, kampanye hitam dan hoax melalui berbagai media sosial. Menurut Kande, yang banyak menyebarkan hoax itu bukan Generasi Milenial atau Generasi Z, tetapi generasi sebelumnya.
“Kalau kita bicara tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), maka ade-ade semua ini disebut dengan digital native atau tuan atas digital. Masih dalam kandungan, generasi z sudah merasakan gerakan jari ibunya yang memainkan gadget (handphone). Karena itu Bawaslu melibatkan adik-adik sebagai bagian dari partisipasi, dalam rangka membangun pengetahuan politik (kognitif), kesadaran politik (afeksi) dan partisipasi politik (skill). Kegiatan hari ini sebagai pengetahuan politik berkaitan dengan sistimPemilu, tentang partai politik, serta hak dan kewajiban masyarakat,”tandas Kande, serya menambahkan, bahwa kalau sudah punya pengetahuan politik, maka diharapkan tumbuh kesadaran politik dan berpartisipasi dalam politik.
Kande kemudian mengetengahkan sebuah cerita yang menurutnya tidak 100 persen benar, bahwa yang lulusan Perguruan Tinggi itu, kalau IPK bagus pasti direkrut menjadi dosen. IPK yang setengah bagus atau yang kedua, pasti menjadi pengusaha, dan IPK yang paling rendah menjadi politisi.
“Ini harus kita balik di generasi adik-adik. Pemimpin-pemimpin politik mendatang harus dari kader-kader atau lulusan-lulusan Perguruan Tinggi yang IPK-nya bagus atau tinggi. Karena kita butuh pemimpin-pemimpin politik yang akal sehatnya jalan. Jangan hanya menggunakan kekuasaan secara sembarangan,”tandas Kande.
Menurut Kande, berpatisipasi dalam proses Pemilu sebagai pengawas atau pemantau, maka harus punya kesukarelaan, transparansi, akuntabel, kredibel, kepastian hukum, kepentingan umum, proposionalitas, profesionalitas, anti kekerasan, efisien dan tidak memihak karena kepentingan. Kande mencontohkan bahwa kesukrelaan, bahwa ketika mau melaporkan sesuatu pelanggaran Pemilu, jangan berpikir bahwa saya diberi hadiah apa dulu barulah saya melaporkan.Usai pemaparan materi oleh Dr.Fredik, A.Kande, banyak pelajar yang antusias mengajukan pertanyaan dan dijawab secara baik dan tuntas oleh salah satu akademisi yang sudah menulis sejumlah buku itu. Selanjutnya, Anggota Bawaslu Alor, Amir Bapang,S.Pt juga menyampaikan materi berkaitan dengan berbagai regulasi dan tahapan Pemilu serentak Tahun 2024.

Budianto Tukang, Guru SMA Negeri Alor Kecil

Budianto Tukang sebagai guru pendamping dari SMA Negeri Alor Kecil melalui media ini berterima kasih kepada Bawaslu Alor yang melibatkan para pelajar sebagai pemilih pemula dalam kegiatan terkait pewasan Pemilu partisipatif tersebut. Budiantu menilai bahwa materi yang disampaikan para narasumber itu baus bagi pengetahuan politik para pelajar, tetapi secara teknis pelaksanaan pengawasan partisipatih perlu terus dilakukan lagi sehingga dapat dipahami secarabaik oleh para pelajar untuk turut berpartisipasi aktif megawasi Pemilu secara baik dan benar.
“Dalam laporan panitia menyebutkan bahwa kami sebagai stakeholder juga menjadi bagian dari Bawaslu sehingga perlu ada kegiatan selanjutnya, sehingga masyarakat awam bisa memahami dengan benar. Bawaslu harus punya jaringan sampai kepada perangkat desa seperti para Ketua RT, karena pengalaman pada Pemilu sebelmnya, orang-orang yang terpilih sebagai Panwas desa tidak begitu maksimal dalam mengatasi berbagai permalahan Pemilu di lapangan. Mungkin karena ada kekhawatiran adanya ancaman pihak tertentu atau apa, ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama, agar Pemilu dan Pilkada 2024 tidak seperti sebelumnya”saran Budianto.

Anggota Bawaslu Alor, Orias Langmau,SE (kiir) didampingi Korsek Bawaslu Alor, Ruth Kafelbang,SE

Sementara itu, Anggota Bawaslu Alor, Orias Langmau,SE ketika menutup kegiatan ini, Rabu (16/11/2022) menegaskan bahwa proses Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif itu akan terus menerus dilakukan Bawaslu. Untuk itu, Orias berharapa agar guru-guru pendamping dan para pelajar yang hadir dalam kegiatan tersebut, menjadi corong bagi Bawaslu untuk menyampaikan informasi terkait pengawsan Pemilu partiasipatif.
Lebih jauh Orias menjelaskan, bahwa Tahun 2024 merupakan tahun dimana pertama kali bangsa Indonesia melaksanakan Pemilu dan Pemilihan Kepala Daerah serentak pada tahun yang sama. Menurut Orias, pada 14 Februari 2024 itu warga negara Indonesia yang punya hak pilih, akan memilih Presiden/Wakil Presiden, Anggota DPR/DPD/DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Sedangkan Pemilihan Kepala Daerah baik Gubernur/Wakil Gubernur serta Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota itu dilaksanakan pada 27 November 2024.
“Jadi serentaknya itu ada dalam satu tahun. Dulu itu hampir setiap tahun ada Pilkada di Indonesia, maka sekarang ini digabungkan semua pada Tahun 2024. Sehingga nanti lima tahun kedepan baru kita Pemilu serentak lagi, yakni di Tahun 2029. Dan saat itu pasti adik-adik pelajar saat ini sudah ada yang menjadi pengawas Pemilu, baik di kecamatan atau di desa, karena untuk menjadi pengawas Pemilu Kabupaten minimal berusia 30 tahun,”jelas Orias.
Kesempatan itu Orias menyampaikan terima kasih kepada para kepala SMA/MA/SMK yang telah memberikan rekomenfasi kepada guru-guru pendamping maupun pelajar, dalam megikuti kegiatan dimaksud. Orias berharap agar kerja sama itu terus berjalan dalam mesukseskan Pemilu 2024.
“Adik-adik yang ada kami sudah inventarisir, kedepannya ada kakak-kakak dari Bawaslu Alor ke sekolah, maka bisa aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya,”pungkas Orias, mewakili Ketua Bawaslu Alor, Dominika Deran,S.Pd untuk menutup kegiatan tersebut.

Anggota Bawaslu Alor, Amir Bapang, saat sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif di Desa Alila Timur, Jumad (18/11/2022) foto: fb Orias Langmau,SE

Selanjutnya, kepada media ini, Orias menginformasikan bahwa selama pekan lalu, Bawaslu Alor juga melakukan kegiatan sosialisasi serupa kepada stakeholders terkait di sejumlah desa, yakni; Di Desa Moremam, Kecamatan Alor Barat Daya pada Senin, 14 November 2022. Selanjutnya di Desa Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut pada Rabu, 16 November 2022. Di Desa Wolwal Tengah, Kecamatan Alor Barat Daya pada Kamis, 17 November 2022. Desa Tuleng, Kecamatan Lembur pada Kamis, 17 November 2022. Desa Kamot, Kecamatan Alor Timur Laut pada Kamis, 17 November 2022. Desa Alila Timur, Kecamatan Kabola pada Jumad, 18 November 2022. Desa Fanating, Kecamatan Teluk Mutiara pada Jumad, 18 November 2022. Desa Lembur Barat, Kecamatan Lembur pada Sabtu, 18 November 2022, dan di Desa Lendola, Kecamatan Teluk Mutiara pada Sabtu, 19 November 2022 kemarin. (ap/linuskia)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *