alorpos.com – DUKA mendalam sedang dialami keluarga seorang pensiunan guru SMAK St.Yoseph Kalabahi, Maksi Kaben, atas tragedi kehilangan nyawa putra bungsunya, Martinus Hendrik Kaben (19 tahun) pada Selasa (17/3/2026) pagi. Hendrik meregang nyawa setelah menjalani perawatan di RSD Kalabahi selama kurang lebih tiga hari setelah terluka parah oleh tikaman Yesurun Maumanet alias Diego, seorang pemuda di wilayah Kelurahan Kalabahi Tengah, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor pada Jumad (13/3/2026) sekitar pukul 9.30 Wita. Hingga Selasa sore pelaku belum berhasil diringkus aparat Polres Alor, tetapi informasi terakhir yang diperoleh malam ini, pelaku berhasil diciduk aparat kepolisian di wilayah Alor Timur Laut.
Kapolres Alor, AKBP.Nur Azhari,S.H., didampingi Kasat Reskrim Polres Alor, AKP.Amru Ichsan menjawab wartawan, Selasa (17/3/2026) di ruang kerjanya mengatakan bahwa anggota Polres Alor gencar melacak keberadaan pelaku tetapi belum ditemukan. Azhari menegaskan bahwa jika satu minggu kedepan tidak ketemu maka akan diterbitkan DPO (Daftar Pencaran Orang). Karena itu dia mengharapkan agar masyarakat jika mengetahui keberadaan pelaku maka segera diinformasikan kepada aparat terdekat.
“Kami berupaya mencari pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kami berharap kepada keluarga dan teman-teman korban, agar bisa menahan diri, dan doakan agar pelaku ini bisa kita tangkap,”tandas Kapolres.
Disinggung bahwa pelakunya sudah jelas dan alamatnya juga jelas, sehingga publik menilai aparat Polres terkesan lambat bergerak, AKBP.Nur Azhari melalui Kasat Reskrim, AKP.Amru Ichsan menekankan bahwa aparat sudah mendatangi tempat-tempat pelaku tetapi pelaku tidak ditemukan.

“Semua informasi itu, anggota sudah bergerak ke titik-titik tersebut, termasuk ke rumah Luki karena katanya dia juga tinggal di rumah Luki untuk mencari tahu apakah betul atau tidak, ternyata memang tidak ada. Jadi informasi yang kita dapat ini belum A1 terkait keberadaannya (keberadaan pelaku). Tetapi yang pasti, bahwa setiap informas yang kami peroleh selalu ditelusuri. Bisa saja di tempat-tempat yang didatangi aparat, pelaku selalu berhasil sembunyi,”kata Ichsan.
Mengenai kronologisnya, Kasat Reskrim mengatakan bahwa malam sebelum peristiwa penikaman itu, korban dan pelaku serta beberapa teman lainnya minum (minum miras) bersama kemudian terjadi perselisihan diantara mereka, sehingga besok paginya, pelaku menunggu korban yang sama-sama sebagai tukang ojek sehingga tahu jalur yang biasa korban lintasi.
Pelaku, jelas Ichsan, tunggu korban diantara pohon-ponon pisang di samping jalan yang biasa dilalui, dan begitu korban melintas dia langsung menyerang tubuh korban dengan senjata tajam (sajam) yang diduga pisau.
Lebih lanjut Ichsan mengungkapkan bahwa ada dua sepeda motor yang berdampingan, dimana korban di posisi depan, sehingga ketika terjatuh bersama sepeda motornya karena serangan pelaku, motor kedua juga jatuh. Korban yang kena tikam masih berdiri dan berlari, pelaku masih mengejar juga korban tetapi tidak dapat, lalu dia menendang lagi saksi fakta dengan sepeda motornya hingga terjatuh, dan pelaku langsung kabur.

Saat ini, sambung Ichsan, pihaknya sudah memeriksa lima orang saksi, termasuk saksi fakta yang menerangkan bahwa benar pelaku bernama Yesurun Maumanet alias Diego yang melakukan penikaman terhadap korban. Menurutnya kasus ini tidak ada kaitan dengan tawuran antar oknum pemuda di Kalabahi.
“Pelaku dan korban masih bersahabat tetapi sedang ada perselisihan antara mereka saat minum bersama, sehingga malam itu mereka sempat berkelahi. Pelaku masih dendam, sehingga paginya dia tunggu korban. Rumah pelaku di pinggir jalan, dan dia tunggu korban sekitar 30 meter dari rumahnya,”ujar Ichsan.
Pelaku Yesurun Maumanet alias Diego, urai Kasat Reskrim, menikam korban dari arah punggung bagian kiri bawah ke atas, dan diduga pisau cukup panjang sehingga luka tusukan cukup dalam hingga menembus organ dalam korban. Iniformasi yang dihimpun media ini, bahwa lukas tusukan yang dalam melukai organ tubah vital hati, limpa bahkan melukai jantung sehingga harapan hidup sangat tipis sejak dirawat pada Jumad (13/3/2026), dan akhrnya meninggal pada Selasa (17/3/2026) pagi.
Keterangan Kapolres Alor melalui Kasat Reskrim dan telah dipublikas sejumlah media online bahwa korban juga minum miras bersama pelaku pada Kamis (12/3/2026) malam sebelum kejadian naas itu dibantah tegas ayah korban, Maksi Kaben. Kepada alorpos.com melalui panggilan WhatsApp pada Kamis (17/3/2026) sekitar Pukul 16.05 Wita, Maksi Kaben menegaskan bahwa informas yang diperoleh Kapolres Alor dan disampaikan kepada wartawan itu tidak benar.

Martinus Hendrik Kaben sedang menerim telepon ucapan turut berbelasungkawa dari para kerabat, di rumah duka, Lautingara-Kalabahi
“Itu berita tidak benar. Saya tidak tahu informasi itu dari mana. Tetapi intinya begini, anak ini (korban) dengan saya sama-sama, karena dia mengantar saya latihan koor untuk persiapan Paskah gabung dengan KUB (Kelompom Umat Basis) Ratu Rosari, sehingga kami latihan koor di rumah bapak Arnold Lalo,”kisah Maksi Kaben.
“Saya dengan dia (korban) turun sebelum jam 7 malam pada Kamis (12/3/2026) ke tempat latihan koor. Dari rumah kami mengikuti jalur jalan di dekat rumah bapak Mesakh Malailak (Plt.Kepala Dinas Perijinan Kabupaten Alor) lalu menuju rumah tempat lathan koor. Ketika saya mau masuk rumah latihan koor, saya suruh anak saya pulang, dan dia bilang tidak putar motor kembali melewati jalur yang sama karena sepeda motor lompat-lompat di ruas jalan tersebut (karena berlubang) sehingga dia tidak nyaman karena baru selesai makan malam,”sambung pensiunan guru pada SMAK St.Yoseph Kalabahi itu.
Maka, lanjut Maksi, bahwa sesuai keterangan korban pada Kamis malam itu, bahwa dia pulang ke rumah dengan melwati jalur jalan menuju Kantor Lurah Kalabahi Tengah dan berputar melalui jalan besar dari pertigaan Gereja Betlehem Lipa.
“Malam itu anak saya cerita bahwa sebelum dia berbelok persis di pertigaan rumah ibu pendeta, kebetulan anak saya berpapasan dengan pak Dominggus Sama sehingga ia menyapa Dominggus Sama dengan memanggil bapak. Tetapi pelaku yang kebetulan ada di pertigaan jalan tersebut, langsung menuding korban memaki dia. Anak saya bilang, “tidak, saya tegur saya punya om tadi”. Tetapi pelaku langsung memukul anak saya sehingga pelipis kanannya sedikit lebam dan masih membekas. Setelah kena pukul, anak saya kembali ke tempat latihan koor menemui saya dan melaporkan bahwa dia baru kena pukul dari pelaku,”kisah Maksi Kaben.
Maka, lanjut Maksi, mereka turun ke tempat kejadian, kemudian memanggil Minggus Sama sebagain saksi, tetapi begitu Minggus beri keterangan, kawan-kawan pelaku yang sedang minum miras langsung memaki.
“Mereka memang sedang minum miras, anak saya tidak. Karena memang anak saya tidak tau minum miras. Ada baiknya dikonfirmasi lagi dengan polisi Dion karena dia mengaku mengetahui pelaku dan kawan-kawannya minum, anak saya tidak,”tegas Maksi.
Lebih lanjut, simak penuturan Maksi Kaben lebih lanjut ini: Anak saya lapor saya bahwa dia kena pukul itu supaya kami lapor ke polisi malam itu. Tetapi ketika kami sampai di rumah, kakanya yang juga anggota polisi ajak adiknya , pergi cari pelaku di TKP untuk diselesaikan baik-baik, tetapi mereka sudah tidak ada.
Dalam perjalanan pulang, kakak pelaku datang ke rumah saya untuk minta maaf, dan saya bilang ini sudah beberapa kali pelaku memukul anak saya. Kalau boleh kami lapor ke polisi saja. Tetapi kakak pelaku janji akan datang dengan pelaku besoknya untuk minta maaf. Istri saya bilang, kalau begitu datang dengan orang tua pelaku, tetapi saya bilang, orang tua pelaku sudah terlalu tua sehingga kami harus mengalah untuk turun di rumah pelaku sekaligus menemui orang tua pelaku.

Mungkin karena saya bilang mau lapor ke polisi inilah akhirnya mereka tidak jadi ke rumah besok paginya. Ternyata pelaku justru sedang merencanakan cara untuk membunuh anak saya seperti itu.
Tapi saya tegaskan bahwa anak saya tidak tahu minum. Saya siap sumpah bahwa anak saya tidak minum (miras) seperti yang diberitakan. Anak saya tidak bersama mereka (pelaku) malam itu. Anak saya antar saya ke tempat latihan koor, lalu dipukul saat dia berjalan pulang ke rumah setelah antar saya.
Buktinya, malam itu kakak pelaku datang ke rumah untuk bertemu saya, dan juga anak saya yang polisi, anak saya yang jadi korban dan istri saya untuk mau minta maaf karena pelaku sudah pukul anak saya. Makanya saya sangat malu ketika diberitakan bahwa anak saya yang merupakan korban juga ikut minum miras bersama pelaku. Itu informasi sangat tidak betul. Ada unsur penipuan dari mereka yang memberi keterangan. Saya tidak tahu, bapak Kapolres menyampaikan itu atas laporan siapa.
Disinggung bahwa mungkin ada dendam lama pelaku terhadap korban, Maksi Kaben mengakuinya, bahwa korban pernah cerita, bahwa pelaku dendam karena mereka pernah berkelahi beberapa waktu lalu, dan setiap kali bertemu, pelaku selalu mengancam korban. Kini Maksi Kaben dan keluarga besarnya berharap agar pelaku bisa secepatnya ditangkap untuk diproses hukum sesuai perbutannya.
Harapan Maksi Kaben dan keluarga akhirnya terpenuhi karena pelaku berhasil diringkus aparat dari persembunyiannya di wilayah Alor Timur Laut, dan siap diproses hukum. (ap/linuskia)